Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ukraina Menggantungkan Harapan pada Bantuan Turki

.
Presiden Ukraina

Azizah News - Ukraina menaruh harapan besar atas bantuan Tukrki dalam proses negosiasi dengan pihak Rusia. Zelenskyy mengatakan ada beberapa negara menawarkan diri untuk menjamin tempat pertemuan negosiasi yang aman. Namun, Presiden Ukraina mengatakan kepercayaannya pada negara Turki.

Pilihan untuk menjadikan Turki sebagai negara penjamin pertemuan negosiasi disebabkan negara Turki berada pada posisi netral antara Ukraina dan Rusia.

Negara lain yang mengajukan diri sebagai negara penjamin pertemuan antara lain Amerika Serikat, Inggris, Turki, Polandia, Jerman, Prancis, dan Israel.

"Kami mengandalkan dukungan penuh Turki. Kami percaya pada kepemimpinan Turki," kata Presiden ukraina.

Presiden Ukraina meyakini bahwa sulit untuk mengakhiri perang tanpa dialog. Oleh sebab itu, beberapa negara menyatakan siap untuk menengahi konflik antara Rusia dan Ukraina.

Presiden Ukraina itu meyakini Turki banyak memainkan peran perantara dalam banyak hal. Sehingga dia meminta Turki menjadi penengah.

Besar Harapan Zelenskyy agar pertemuan itu segera diadakan. Karena Ukraina merasa sudah sakarat dan perlu mengadakan pertemuan secepatnya.

“Kami mengandalkan dukungan penuh dari Turki dan seluruh jajaran kepemimpinan Turki. Kami akan membantu (pelaksanan negosiasi) jjika ini terjadi di Turki," kata Zelenskyy.

Sikap negara Turki yang netral mendapatkan pujian yang luas biasa di mata dunia. Turki tetap menjaga komunikasi dengan kedua bela pihak yang berkonflik. Dan Turki memberikan secerca harapan agar upaya diplomatik mencapai solusi.

dengan mengambil peran sebagai mediator dengan menjaga saluran komunikasi dengan kedua belah pihak yang bertikai terbuka memberikan secercah harapan dalam upaya diplomatik untuk menemukan solusi dan mencapai perdamaian dalam krisis Ukraina.

Belum lama ini, Presiden Recep Tayyip Erdogan sudah menegaskan kembali tawarannya untuk menjadi tuan rumah Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin bernegosiasimengamankan perdamaian antara Ukraina dan Rusia.

Erdogan menyuarakan harapan bahwa kemungkinan pertemuan puncak antara kedua pemimpin tersebut akan berlangsung di Istanbul dan berharap dapat segera mengakhiri perang. Dia menambahkan bahwa Putin dan Zelenskyy perlu mengambil langkah-langkah mengenai Donbass dan Krimea.

Kondisi mengenai kedua wilayah ini masih menjadi hambatan antara kedua belah pihak yang bertikai dalam negosiasi. Ukraina menganggap tuntutan Rusia di kedua wilayah tersebut sebagai pelanggaran integritas teritorialnya.

Tempat pertemuan antara Putin dan Zelenskyy kemungkinan besar adalah Turki, dikutip dari negosiator Ukraina Davyd Arakhamia mengatakan pekan lalu melalui Interfax Ukraina.

Putin dan Zelenskyy diperkirakan akan bertemu di Turki "dengan tingkat probabilitas yang tinggi,"mengutip Arakhamia.Negosiator itu mengatakan kepada televisi Ukraina bahwa waktu dan tempat untuk pertemuan negosiasi belum ditetapkan.

Kedua belah pihak telah menggambarkan negosiasi dalam beberapa hari terakhir sebagai hal yang sulit. Pembicaraan tersebut merupakan kombinasi dari sesi tatap muka di Turki dan pertemuan virtual.

Dalam sebuah terobosan, delegasi Rusia dan Ukraina bertemu untuk pembicaraan damai di Istanbul pada 29 Maret ketika perang memasuki bulan kedua dengan korban menumpuk di kedua belah pihak.

Selama pembicaraan, para pejabat Ukraina mengisyaratkan kesiapan untuk menegosiasikan "status netral," mereka terhadap NATO seperti permintaan utama Rusia. Ukraina juga menuntut jaminan keamanan untuk negara mereka.

Rusia, sementara itu, berjanji untuk secara signifikan mengurangi kegiatan militernya terhadap kota-kota Ukraina Kyiv dan Chernihiv untuk membangun kepercayaan untuk negosiasi di masa depan.

Ukraina ingin melihat negara-negara, termasuk Turki, sebagai penjamin dalam kesepakatan dengan Rusia, kata seorang negosiator Ukraina setelah pembicaraan.

Turki juga menjadi tuan rumah menteri luar negeri Rusia dan Ukraina di Antalya awal bulan ini. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dari Rusia dan Dmytro Kuleba dari Ukraina bertemu di kota resor Turki Antalya untuk melakukan pembicaraan, yang juga dihadiri oleh diplomat tinggi Turki Mevlüt Çavuşoğlu.

Pembicaraan itu sebagian besar tidak mencapai kesepakatan, tetapi Ankara memandang fakta bahwa pembicaraan itu berlangsung baik.

Evakuasi dari Mariupol

Presiden Ukraina juga menyinggung upaya untuk mengevakuasi orang-orang dari kota Mariupol yang terkepung.

"Kami saat ini sedang mengerjakan evakuasi korban yang terluka di kota Mariupol. Untuk hal ini, Turki mengambil peran yang besar. Kapal-kapal Turki bahkan digunakan untuk evakuasi. Saya tidak bisa memberikan rincian lebih lanjut, karena operasi ini masing langsung hingga saat ini. Kami harus melanjutkan negosiasi lagi. Tujuan kami adalah harus tetap melindungi kehidupan warga negara kami," katanya.

Sebelumnya, Zelenskyy juga mengatakan bahwa Turki siap untuk mengevakuasi para pejuang yang terluka dan mati atau terkepung di kota Mariupol melalui kapal.

Zelenskyy mengatakan kesepakatan telah dicapai dengan Turki untuk mengangkut warga di Mariupol yang terluka dan tewas dengan kapal ke Berdyansk, menuju sebuah kota pesisir sekitar 69 kilometer (43,3 mil) jauhnya.

"Kami sedang menunggu persetujuan dari (Presiden Rusia Vladimir) Putin. Saat ini tergantung padanya," katanya kepada wartawan Ukraina.

Dia menambahkan bahwa semua infrastruktur sudah siap untuk menyingkirkan korban yang terluka dan mati dari Mariupol.

Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar juga mengatakan Turki dapat menyediakan kapal untuk mendukung evakuasi warga sipil dan terluka dari Mariupol.

Turki telah menjadi salah satu negara yang memimpin upaya untuk menemukan solusi diplomatik untuk invasi Rusia yang sedang berlangsung ke Ukraina. Mengingat sudah efek peperangan ini sudah berdampak pada jutaan warga sipil.

Ankara telah menawarkan untuk memfasilitasi pembicaraan damai antara Ukraina dan Rusia tetapi menyatakan bahwa mengutamakan gencatan senjata dan koridor kemanusiaan dalam peperangan.

Mempertahankan sikap netral dan seimbangnya, Turki melanjutkan upaya diplomatiknya untuk mengurangi konflik Ukraina, mendesak semua pihak untuk menahan diri.

Satu sisi, Ankara juga menentang sanksi internasional yang dirancang untuk mengisolasi Moskow. Pada sisi yang lain, ankara juga menutup selatnya untuk mencegah beberapa kapal Rusia menyeberang melalui mereka. Sekutu NATO Turki berbatasan dengan Ukraina dan Rusia di Laut Hitam dan memiliki hubungan baik dengan keduanya.

Sejak awal konflik, Ankara telah menggarisbawahi dukungannya untuk integritas dan kedaulatan teritorial Ukraina.

Setelah menyebut invasi Rusia sebagai pelanggaran hukum internasional yang tidak dapat diterima, Turki telah dengan hati-hati merumuskan retorikanya untuk tidak menyinggung Moskow, yang dengannya ia memiliki hubungan energi, pertahanan, dan pariwisata yang erat.

Erdogan telah berulang kali mengatakan Turki tidak akan meninggalkan hubungannya dengan Rusia atau Ukraina, menggarisbawahi bahwa kemampuan Ankara untuk berbicara dengan kedua belah pihak adalah aset.

Sumber : Daily Sabah

Posting Komentar untuk "Ukraina Menggantungkan Harapan pada Bantuan Turki"